Reggae Membawa Damai

Reggae Membawa Damai
Rosmita
 
Tony Q Rastafara: Lebih damai dengan musik reggae.
(iPhA/Wirasatria)
 

Inilah.com, Jakarta – Penggila musik reggae atau biasa disebut rastaman masih eksis di pergaulan musik Tanah Air. Komunitas ini kian berkembang seiring dengan sejumlah musisi Indonesia yang mulai menggeluti musik bernuansa reggae.

 

 

Iwan Fals mempelopori kebangkitan kembali reggae di Indonesia melalui album 50:50. Selain Iwan, sejumlah grup musik juga melahirkan tembang berbalut reggae, seperti Slank, Ello, Pas Band, dan juga Steven & The Coconuttreez yang sukses dengan judul lagu Welcome To My Paradise.

Kebangkitan reggae juga menyulut kembali aktivitas komunitas para penggemarnya. Sebut saja komunitas Friendscoconuttrez. “Komunitas Friendcoconuttrez saat ini sudah mencapai 600 orang untuk daerah Jakarta Barat saja. Juga tersebar di tempat lain di wilayah Jakarta,” kata Steven, anggota Steven & The Coconuttrezz kepada Inilah.com.

Band yang sudah tiga tahun berkonsentrasi pada aliran reggae ini telah menelurkan dua album. Mereka terinspirasi oleh Bob Marley dan juga 311. Mengapa grup musik ini memilih genre reggae sebagai identitas?

�Alasan Steven & Coconuttezz memilih aliran ini adalah karena keinginan untuk membangkitkan semangat kalangan bawah. Tema sosial yang diusung band mendatangkan kepuasan tersendiri bagi kami. Kami berharap musik ini tidak hanya akan booming, di dalam negeri saja, tapi juga ke mancanegara,” jelas Steven. Grup ini memang sedang sibuk syuting untuk video klip album terbaru sekaligus merencanakan rangkaian tur ke Eropa dan Jepang.

Komunitas reggae memang masih minim keberadaannya. Meski dalam jumlah anggota yang tidak banyak, namun penyuka musik itu terbilang memiliki loyalitas tinggi.

Lihat saja sejumlah kafe yang menggelar musik reggae selalu tidak pernah sepi pengunjung. Kerumunan rastaman dengan suka cita ‘menghipnotis’ diri dalam alunan musik reggae.

Begitu pula yang terjadi di kafe BB�s di bilangan Menteng, yang menyuguhkan musik aliran reggae. Acara rutin tiap Rabu dan Jumat ini, seolah menjadi tempat yang damai untuk bersantai bagi para pemuja aliran reggae.

Musik reggae dianggap sebagai musik pemberontak yang mengkritisi pemerintahan, pejabat, maupun oknum-oknum yang dianggap telah menindas rakyat kecil. Barisan lirik kata yang tajam menjadi bagian dari idealisme reggae. Karena dianggap kurang bersahabat dengan dunia bisnis, pihak label rekaman seringkali tidak ingin merekrut musisi reggae sebagai rekan bisnis.

Kekentalan idealisme ini menyebabkan sejumlah musisi dari aliran berbeda lantas hijrah ber-reggae-ria dan lantas melahirkan komunitas yang beranggota tidak sedikit. Seperti Tony Q Rastafara, misalnya. �Awalnya saya main aliran musik rock dan blues. Tetapi ternyata saya memilih aliran reggae karena sesuai dengan jiwa saya. Susah memang memainkan musik aliran ini. Tetapi untuk kepuasan batin, kenapa tidak diperdalam?� tutur Tony Q Rastafara kepada Inilah.com.

Tony mengaku terinspirasi Bob Marley dan teramat menyukai single lawas No Women No Cry.

“Album saya berisikan lirik-lirik dengan tujuan mengkritik dan menyadarkan suara manusia. Bukan hanya sisi personal pemerintah saja yang saya sentil. Yah, lebih cool dan santai aja. Sesuai karakter musik reggae itu sendiri,� kata Tony sambil tertawa.

Sejumlah perusahaan rekaman boleh saja enggan bekerjasama dengan musisi reggae yang dianggap kerap nyleneh. Namun, alunan nada reggae tetap mampu menyelinap di dalam relung-relung hati manusia yang haus akan suasana damai. Apalagi kini mulai banyak tembang reggae yang memilih lirik lembut dengan kosakata santun.

Tinggalkan Balasan